WASPADA DIFTERI PADA PEKERJA

...

Difteri adalah penyakit akut yang sangat menular. Disebabkan oleh bakteri (kuman) Corynebacterium diphtheria.  Penyakit ini hanya berjangkit pada manusia dan tersebar di seluruh dunia. Umumnya pada bayi/anak-anak, namun dapat juga terjadi pada orang dewasa . Orang dewasa yang terserang umumnya yang tidak pernah mendapatkan vaksinasi difteri, vaksinasi difteri tidak lengkap atau vaksinasi difteri sudah lebih dari 10 tahun.  Angka kematian pada orang dewasa dapat mencapai 20%

Cara penularan adalah jika ada kontak dengan penderita atau pembawa penyakit difteri ( carrier) melalui udara/droplet (percikan) . Sekret (cairan) yang mengandung kuman (infeksius) berupa droplet disebarkan melalui batuk, bersin, atau pada saat berbicara. Bila terjadi difteri kulit, eksudat (cairan) dari kulit yang terinfeksi juga dapat menjadi sumber penularan. Kontak tidak langsung dapat melalui debu, baju, buku atau barang lainnya yang terkontaminasi.

GEJALA KLINIS

Demam sekitar 38°C, pseudomembran (selaput) putih keabu-abuan yang tak mudah lepas dan mudah berdarah di faring, laring atau tonsil (daerah tenggorokan) , sakit waktu menelan, leher membengkak seperti leher sapi, dan sesak nafas disertai stridor (bunyi pada saat nafas seperti tersumbat)

Komplikasi yang dapat terjadi adalah berupa difteri saluran napas (penyumbatan saluran nafas), difteri kutan (kulit), kardiomiopati toksik (gejala pada jantung),  dan infeksi di tempat lain. 

 

DIAGNOSIS DIFTERI

Dapat ditegakkan berdasarkan manifestasi klinik yang khas

Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya kuman  C.diphteria pada pemeriksaan kultur dari lesi (area terinfeksi) yang dicurigai . Spesimen diambil dari hidung, tenggorokan, dan lesi kulit mukosa yang dicurigai.  Pemeriksaan memerlukan laboratorium khusus. 

PEKERJA BERISIKO

1. Pekerja di layanan kesehatan : 

bertugas melayani orang sakit membuat pekerja di layanan kesehatan sangat berisiko terhadap penularan baik melalui udara, sekret/droplet maupun media lainnya yang mengandung kuman penyakit. Terutama petugas layanan kesehatan dipoliklinik atau bangsal anak, bangsal isolasi, ruang persalinan dan neonatal

 

2. Pekerja layanan publik , antara lain pekerja perkantoran, perbankan, pedagang, guru, dan pekerja lainnya yang berhadapan dengan banyak orang sehari-harinya membuka potensi penularan penyakit terutama yang dapat ditularkan melalui udara, diantaranya adalah difteri

3. Pekerja terpajan debu/bahan kimia yang menyebabkan berkurangnya pertahanan jalan nafas sehingga mudah terjadi infeksi saluran nafas

 

LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN SECARA UMUM

 - Penyuluhan dan edukasi mengenai bahaya potensial di tempat kerja dengan gangguan kesehatan yang mungkin timbul 

 - Penyuluhan dan edukasi higiene perorangan dengan penyediaan fasilitasnya (mis. cuci tangan, mandi).

 - Edukasi bagi pasien, misalnya melalui poster mengenai Etika Batuk/Bersin

 - Memeriksa status imunisasi masing-masing untuk mengetahui apakah status imunisasinya sudah  lengkap atau belum. Jika belum pernah atau belum lengkap atau sudah lebih dari 10 tahun yang lalu, agar dilengkapi/diulang.

 - Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (sehari-hari dan seterusnya), mempergunakan masker bila sedang batuk-pilek, berobat ke pelayanan kesehatan terdekat bila merasa ada gejala Difteri, melaporkan ke Puskesmas/Klinik terdekat bila mengetahui ada seseorang  yang  menunjukkan gejala  Difteri, mematuhi petunjuk minum obat antibiotika bagi kontak kasus Difteri dan kasus carrier Difteri.

 - Tidak mengunjungi pasien Difteri yang dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit atau Puskesmas, agar tidak tertular. 

 

KHUSUS BAGI PEKERJA DI LAYANAN KESEHATAN

 - Pelatihan cara kerja yang aman beserta pemakaian alat pelindung diri yang sesuai, dengan standard precaution (kewaspadaan standar) yang meliputi 11 komponen yaitu :

kebersihan tangan, Alat Pelindung Diri  (APD), dekontaminasi peralatan perawatan pasien, kesehatan lingkungan, pengelolaan limbah, penatalaksanaan linen, perlindungan kesehatan petugas, penempatan pasien, hygiene respirasi/etika batuk dan bersin, praktik menyuntik yang aman dan praktik lumbal pungsi yang aman. 

 - Bagi pekerja di layanan kesehatan yang anggota keluarganya ada yang terjangkit difteri sebaiknya melapor ke dokter penanggungjawab K3RS untuk mendapatkan edukasi mengenai etika batuk/bersin, penggunaan masker, pentingnya vaksinasi; mendapatkan antibiotika untuk mencegah pekerja tersebut terkena difteri, dan mendapatkan vaksinasi difteri.

 - Bagi pekerja di layanan kesehatan yang menangani pasien difteri segera mendapatkan antibiotika untuk mencegah terkena difteri dan mendapatkan vaksinasi difteri.

 

PENCEGAHAN DENGAN VAKSINASI BAGI PEKERJA

Pekerja yang belum pernah mendapatkan vaksinasi difteri sebelumnya harus mendapat vaksinasi lengkap 3 dosis seri primer. Vaksin berupa kombinasi vaksin Difteri dan Toksoid Tetanus (Td). Dua dosis awal diberikan dengan jarak minimal 4 minggu dan dosis ketiga diberikan 6-12 bulan setelah dosis kedua. Satu dosis Td dapat diganti dengan Tdap (Tetanus, difteri aseluler, pertusis) pada salah satu dari 3 dosis seri primer.  Setelah itu, dilanjutkan dengan booster setiap 10 tahun .

Pekerja yang sudah pernah di vaksinasi, diberikan booster jika terakhir pemberian vaksin 10 tahun yang lalu.

Pada pekerja wanita hamil dapat diberikan vaksinasi Td pada trimester kedua dan ketiga jika pernah mendapat vaksidasi difteri dan tetanus lebih dari 10 tahun sebelumnya, jika pekerja wanita mendapat vaksinasi Td kurang 10 tahun dapat diberikan Tdap secepatnya pada saat setelah melahirkan (post partum).

 

PERHIMPUNAN SPESIALIS KEDOKTERAN OKUPASI INDONESIA